POKOK BAHASAN

Pengertian Perencanaan Kreatif dan Berpikir Kreatif

DESKRIPSI

Pembahasan pada modul ini meliputi cara berpikir kreatif untuk keperluan periklanan yang diawali dengan pembahasan tentang cara berpikir dan cara berpikir kreatif

TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS

Dari materi kuliah tersebut di atas, diharapkan mahasiswa dapat mengembangkan kraativitasnya melalui pemahaman terhadap cara berpikir kreatif.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Sandra E Moriarty., Creative Advertising: theory and Practice
  2. Stephen Baker., Systematic Approach to Advertising Creativity

BERPIKIR KREATIF

Setiap upaya perencanaan kreatif dalam periklanan selalu didahului dengan proses kreatif daiam arti proses penciptaan ide-ide / gagasan kreatif iklan. Proses ini pada dasarnya adalah proses berpikir kreatif.

Kreativitas seringkali dianggap sebagai sesuatu ketrampilan yang didasarkan pada bakat alam, dimana hanya mereka yang berbakat saja yang bisa menjadi kreatif, Anggapan ini tidak sepenuhnya benar, walaupun memang dalam kenyataannya terlihat bahwa orang-orang tertentu memiliki kemampuan untuk menciptakan ide-ide baru dengan cepat dan beragam.

Namun demikian, sesungguhnya kemampuan berpikir kreatif pada dasarnya dimiliki semua orang. Berpikir kreatif adalah kemampuan untuk menciptakan gagasan-gagasan baru dan orisinil. Bahkan pada orang yang merasa tidak mampu menciptakan ide baru pun sebenarnya bisa berpikir secara kreatif, asalkan dilatih. Untuk itu, perlu diketahui terlebih dahulu mengenai cara berpikir dan cara berpikir kreatif.

Berpikir adalah proses mengolah dan memanipulasikan informasi untuk memenuhi suatu kebutuhan atau memberikan respons. Dalam berpikir seseorang mengolah informasi-informasi yang ada dengan menggunakan lambang-lambang visual, lambang grafis atau lambang verbal.

Berpikir adalah suatu aktivitas mental. Proses berpikir manusia memiliki dua ciri utama, yaitu :

1. Covert / unobservable (tidak terlihat).

Proses berpikir terjadi pada otak manusia dan secara fisik tidak dapat dilihat prosesnya (dalam pengertian pemrosesan informasinya). Sejumlah ahli yang mencoba memantau proses berpikir secara fisik hanya menemukan aktivitas listrik arus lemah dan proses kimiawi pada otak manusia yang sedang berpikir.

Dengan demikian, proses pengolahan informasi tak dapat diamati dan dilihat secara fisik maupun secara kimiawi. Pengolahan makna, baik semantic maupun visual bersifat abstrak sehingga tidak dapat dideteks denan panca indera.

2. Symbolic (melibatkan manipulasi dan penggunaan simbol)

Dalam berpikir, manusia mengolah (memanipulasikan) informasi yang berupa symbol-simbol, (baik symbol verbal maupun visual). Simbol-simbol itu akan memberikan makna pada informasi yang diolah.

Proses berpikir merupakan salah satu rangkaian dalam mekanisme penafsiran terhadap stimuli. Dalam berpikir semua proses kognitif dilibatkan, mulai dari sensasi, persepsi dan memori. Sebagai contoh, coba pikirkan jawaban dari soal berikul ini:

Soal 1

Dalam sebuah pesta keluarga, berapa jumlah piring, sendok-garpu dan gelas yang dibutuhkan apabila pesta tersebut dihadiri oleh 1 kakek, I nenek, 2 ayah, 2 ibu, 5 anak, 3 cucu, 1 saudara iaki-laki, 2 saudara perempuan, 2 anak laki-laki, 3 anak perempuan, 1 mertua iaki-iaki, 1 mertua perempuan.

Untuk menjawab soal tersebut, kita berpikir dengan menggunakan lambang-lambang verbal, yaitu lambang-lambang bahasa dan angka, Dengan menggunakan data yang berupa pengertian terhadap istilah-istilah yang digunakan serta angka-angka, kita mencoba mengolah dan mengkalkulasikan data tersebut hingga menemukan satu jawaban.

Berapa jawabannya? Ada sebagian yang akan menjawab 22 buah piring, 22 pasang sendok-garpu dan 22 buah gelas. Benarkah jawaban ini? Tidak benar, sebab jawaban itu hanya menjumlahkan angka yang ada.

Diperlukan pemikiran mengenai pengertian istilah yang digunakan, sehingga ada beberapa sebutan yang menunjuk pada obyek / orang yang sama, misalnya sorang pria bisa menjadi kakek bagi cucunya dan menjadi ayah dari anaknya.

Oleh sebab itu, jawaban dari soal ini adalah : diperlukan 7 buah piring, 7 pasang sendok-garpu dan 7 buah gelas.

Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada skema berikut ini:

 
 

Namun, pada soal berikut ini, lambang yang digunakan dalam berpikir adalah Iambang-lambang visual.

Soal 2

Hubungkan enam titik soal ini dengan menarik garis lurus yang tidak terputus dan tidak mengangkat pensil. Jangan ada satu titik pun yang terlewatkan !

 
 

Jawaban ;

Untuk menjawab soal kedua ini, kita menggunakan lambang-lambang visual, yaitu membayangkan susunan titik yang ada dan mencoba membuat rekaan konfigurasi garis iurus yang tak terputus yang dapat menghubungkan ke enam titik tersebut.

Bagaimana orang berpikir

Secara garis besar, ada dua macam cara berpikir, yaitu cara berpikir autistik dan berpikir realistik. Berpikir autistik seringkali disebut sebagai mengkhayal, melamun atau berfantasi. Dengan berpikir autistik orang melarikan diri dari kenyataan, melihat hidup sebagai gambar-gambar yang fantastic.

Sebaliknya, berpikir realistik disebut sebagai nalar (reasoning), yaitu berpikir secara logis, berdasarkan fakta-fakta yang ada dan menyesuaikan dengan dunia nyata, beserta semua dalil / hukum-hukumnya.

Berpikir realistik dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu :

1. Berpikir deduktif

Berpikir deduktif adaiah proses berpikir yang rnenerapkan kenyataan-kenyataan yang berlaku umum kepada hal-hai yang bersifat khusus. Kesimpulan yang dihasilkan dalam berpikir deduktif dimulai dari hal-hal umum menuju hal-hal khusus.

2. Berpikir induktif

Berpikir induktif justru sebaliknya, dimulai dari hal-hal khusus kemudian ditarik kesimpulan secara umum. Kesimpulan yang dihasilkan dalam berpikir induktif merupakan generalisasi dari hal-hal khusus.

3. Berpikir evaluatif.

Berpikir evaluatif adalah dengan menilai baik-buruknya atau tepat-tidaknya suatu gagasan. Dalam berpikir evaluatif, seseorang tidak menambah atau mengurangi gagasan, tetapi menilainya berdasarkan kriteria tertentu.

Tuiuan Berpikir

Paling tidak ada tiga tujuan yang Ingin dicapai melalui berpikir, yaitu :

1. Untuk mengambil keputusan (Decision Making) Decision making memiliki tiga ciri, yaitu :

  • Keputusannya adalah hasil dari suatu usaha intelektual
  • Keputusannya melibatkan pilihan dari berbagai alternatif
  • Melibatkan tindakan nyata

Decision making juga dipengaruhi oleh kualitas pengetahuan yang dimiliki dan motivasi (dorongan untuk berperliaku ke arah tujuan tertentu) serta sikap terhadap obyek yang akan dikenai keputusan.

2. Untuk memecahkan pesoalan (Problem Solving) Problem solving dilakukan meiaiui enam tahap, yaitu :

  • Identifikasi masalah
  • Menggali ingatan
  • Memahami situasi
  • Mencari jawaban dan kesimpulan
  • Mencoba dengan penyelesaian rnekanis (trial & error)
  • Menemukan pemecahan masalah (insight solution)

Problem solving juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu ;

  • Faktor personal
  • Faktor situasional (mudah-sulitnya masalah, masalahnya baru sekali dihadapi -sudah terbiasa, penting-kurang pentingnya masalah, kompleks - sederhananya masalah)
  • Faktor sosio-psikoiogis (motivasi, kebiasaan, emosi, sikap, dsb)

3. Untuk menciptakan gagasan baru (Create Ideas) Berpikir kreatif memiliki paling tidak dua sifat, yaitu :

  • Melibatkan / menghasilkan respons atau gagasan baru
  • Bersifat orisinal

Salah satu ciri berpikir kreatif adalah digunakannya pola berpikir divergen, yaitu dengan menghasilkan sejumlah kemungkinan (alternatif). Pola berpikir divergen dapat diukur dari ciri-cirnya, yaitu :

  • Fluency
  • Flexibility
  • Originality

Dalam proses berpikir kreatif, terdiri dari lima tahap, yaitu :

  • Orientasi (perumusan masaiah)
  • Preparasi (mengumpulkan informasi yang relevan)
  • Inkubasi (istirahat sebentar untuk mengendapkan masaiah dan informasi yang diperoleh)
  • iluminasi (mendapat ilham)
  • Verifikasi (menguji dan menilai gagasan yang diperoleh)

Faktor - faktor vang mempengaruhi berpikir kreatif:

  • Kemampuan kognitif (kecerdasan, kemampuan menciptakan gagasan baru dan fleksiblitas kognitif).
  • Sikap yang terbuka (bisa menerima hal-hal baru, unik taua tidak biasa).
  • Sikap yang bebas, otonom (tidak terikat oleh konvensi)
  • Percaya diri sendiri

Berbeda dengan cara berpikir biasa, seperti pada penyelesaian contoh soal No. 1 dan 2, dalam proses berpikir kreatif, kita akan menggunakan semua unsur yang telah disebutkan diatas, sebagai contoh, dapat dicoba untuk mengerjakan soal berikut ini :

Soal 3,

Hubungkan sembilan titik dengan menarik empat garis lurus yang tidak terputus (saling bersambung) tanpa mengangkat pensil dari kertas. Jangan ada satu titik pun yang terlewatkan !

? ? ?

? ? ?

? ? ?

Jawaban: Jika kita mencoba menjawab dengan membayangkan bahwa keempat garis lurus tersebut harus berada dalam bidang persegi yang diapit oleh sembilan titik tersebut, maka jawabannya menjadi mustahil.

Kesulitan utama dalam menjawab soal ini adalah adanya “batasan imajiner” yang kita ciptakan sendiri ketika kita melihat konfigurasi sembilan titik tersebut. Persepsi manusia menyebabkan adanya kecenderungan dalam pikiran kita untuk mengelompokkan dan membentuk pola dari sembilan titik tersebut menjadi suatu bentuk segi empat. Apabila kita mencoba untuk menghliangkan “pola” tersebut, maka kita bisa dengan bebas menarik garis diluar bidang segi empat imajiner tersebut.

Soal ini masih bisa dielaborasi dengan menambah tingkat kesulitan dengan mengubah pertanyaan hingga menjadi soal berikut ini:

Soal 4.

Hubungkan kesembilan titik tersebut dengan hanya tiga garis lurus yang saling menyambung dan jangan sampai ada titik yang terlewatkan.

? ? ?

? ? ?

? ? ?

Jawaban :

 
 

Soal ini juga tidak akan bisa dijawab jika kita masih terkekang oleh konvensi bahwa ukuran titik tersebut tidak dapat diubah. Sesuai dengan prinsip berpikir kreatif, bahwa kita harus bebas, terbuka, otonom dan percaya diri, maka masalah ini bisa diatasi. Dengan pola berpikir kreatif yang bebas dari konvensi, maka kita dapat memperbesar ukuran titik dan menghubungkannya dengan tiga garis tipis yang saling menyambung.

Selanjutnya, dalam dunia kreativitas yang tidak mengenal batasan, soal tersebut juga masih bisa lagi ditambah tingkat kesulitannya, yaitu dengan menambahkan persyaratannya hingga menjadi soal berikut ini:

Soal 5.

Hubungkan kesembilan titik tersebut dengan hanya satu garis lurus dan jangan sampai ada titik yang terlewatkan.

? ? ?

? ? ?

? ? ?

Jawaban :Pada soal ini sekali lagi, kita tidak boleh terkekang oleh konvensi bahwa ukuran titik dan garis tersebut tidak dapat diubah, Dengan pola berpikir kreatif yang bebas dari konvensi, maka kita dapat memperbesar ukuran garis sehingga dapat menghubungkannya dengan sembilan titik kecil sekaligus.